BAB 1
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Di era globalisasi ini,seiring dengan pengaruh budaya luar memberi suatu dampak dan berpengaruh terhadap budaya yang ada didalam negeri. Kebanyakan masyarakat cenderung terpengaruh dan mengikuti budaya asing dibanding dengan budayanya sendiri.Yang lebih memprihatinkan justru masyarakat luar yang lebih tertarik dengan budaya kita dan dijadikan sebagai salah satu budayanya sendiri .Hal itu bertolak belakang dengan sikap masyarakat dalam negeri yang saat ini cenderung melupakan kebudayaan yang mereka punya.
Dari paparan diatas jelas, bahwa kurangnya rasa kecintaan dan menghargai budaya sendiri menjadi faktor timbulnya rasa ingin memiliki budaya yang baru dan meninggalkan budayanya sendiri.Rasa kecintaan akan budayanya sendiri harus ditanamkan didalam diri setiap individu.Untuk mencapai tujuan seperti itu, tentunya diperlukan suatu upaya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat untuk bisa lebih menghargai budayanya sendiri.
Upaya-upaya untuk menumbuhkan rasa kecintaan terhadap budayanya sendiri bisa dilakukan dengan mengenal lebih dalam budaya yang dimiliki, karena dengan itu individu mampu memahami makna yang terkandung dan nilai-nilai estetika yang terdapat dalam budayanya sendiri.sehingga muncullah rasa kesadaran untuk tetap mempertahankan budaya yang dimiliki.
Dari sekian orang yang kurang menghargai budayanya sendiri ternyata masih ada juga masyarakat yang mampu mempertahankan, mengelola, dan melestarikan peninggalan yang memiliki nilai falsafah tertentu yang tertuang dalam suatu simbol.hal ini masih dilakukan oleh masyarakat yang tinggal di Kraton Yogyakarta.Pentingnya kajian ini adalah, ingin mensosialisasikan kebudayaan yang terletak pada simbol-simbol Keraton Yogyakarta. Maka dari itu kami mengangkat judul ‘’ MENGENAL SIMBOL – SIMBOL KERATON YOGYAKARTA YANG MENGANDUNG NILAI FALSAFAH ‘’.
Rumusan Masalah
Apakah makna dari simbol-simbol yang terdapat dalam Keraton Yogyakarta ?
Bagaimana usaha para Abdi Dalem keraton untuk menjaga nilai falsafah yang terdapat dalam simbol-simbol kekeratonan Yogyakarta?
Seberapa besar pengetahuan masyarakat sekitar Keraton mengenai simbol – simbol kekeratonan Yogyakarta ?
Tujuan Penelitian
Berdasarkan pada butir – butir rumusan masalah,maka penelitian ini bertujuan sebagai berikut :
Mengetahui makna dari simbol – simbol yang terdapat dalam Keraton Yogyakarta
Mengetahui usaha para Abdi Dalem keraton untuk menjaga nilai falsafah yang terdapat dalam simbol-simbol kekeratonan Yogyakarta.
Mengetahui seberapa besar pengetahuan masyarakat sekitar Keraton mengenai simbol – simbol kekeratonan Yogyakarta.
Manfaat Penelitian
Setelah penelitian dilakukan maka peneliti berharap bisa memberikan manfaat kepada :
Bagi Peneliti
Dari hasil penelitian diharapkan menambah wawasan pengetahuan dan khasanah keilmuan kepada peneliti khususnya dalam ‘’ Mengenal simbol – simbol Keraton Yogyakarta yang mengandung nilai – nilai falsafah ’’ .
1.4.2 Bagi sekolah
Penelitian ini diharapkan bisa memberikan manfaat kepada SMA Negeri 1 Purwoharjo untuk mengembangkan program studi dan untuk memperluas wawasan bagi pembaca.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS
Landasan Teori
2.1.1 me.nge.nal [v] (1) mengetahui; kenal (akan); tahu (akan): tidak ~ kawan dan lawan; (2) mempunyai rasa: pd umumnya penyakit itu tidak ~ perikemanusiaan Bersumber dari http://kamusbahasaindonesia.org.
sim.bol
[n] lambang . bersumber dari http://kamusbahasaindonesia.org
ke.ra.ton
[n] (1) tempat kediaman ratu atau raja; istana raja; (2) kerajaan.bersumber dari http://kamusbahasaindonesia.org.
Yogyakarta adalah sebuah provinsi yang berdasarkan wilayah Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dan Kadipaten Pakualaman. Selain itu ditambahkan pula mantan-mantan wilayah Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan Praja Mangkunagaran yang sebelumnya merupakan enklave di Yogyakarta.Pemerintahan Daerah Istimewa Yogyakarta dapat dirunut asal mulanya dari tahun 1945, bahkan sebelum itu. Beberapa minggu setelah Proklamasi 17 Agustus 1945, atas desakan rakyat dan setelah melihat kondisi yang ada, Hamengkubuwono IX mengeluarkan dekrit kerajaan yang dikenal dengan Amanat 5 September 1945 . Isi dekrit tersebut adalah integrasi monarki Yogyakarta ke dalam Republik Indonesia. Dekrit dengan isi yang serupa juga dikeluarkan oleh Paku Alam VIII pada hari yang sama. Dekrit integrasi dengan Republik Indonesia semacam itu sebenarnya juga dikeluarkan oleh berbagai monarki di Nusantara, walau tidak sedikit monarki yang menunggu ditegakkannya pemerintahan Hindia Belanda setelah kekalahan Jepang. Bersumber dari http://upload.wikimedia.org.
Yang [p] kata untuk menyatakan bahwa kata atau kalimat yg berikut diutamakan atau dibedakan dr yg lain: orang -- baik hati; (2) p kata yg menyatakan bahwa bagian kalimat yg berikutnya menjelaskan kata yg di depan: dijumpainya seorang pengemis -- sedang berteduh di bawah pohon asam itu; (3) pron kata yg dipakai sbg kata pembeda: -- kaya sama -- kaya, -- miskin sama -- miskin; (4) kl p adapun; akan: -- hamba ini diperanakkan di Malaka juga; (5) p cak bahwa: saya pun percaya -- Adinda kasih juga akan Kakand
[ark n] yang-yang n dewa.bersumber dar http://kamusbahasaindonesia.org.
me.ngan.dung
[v] (1) membawa sesuatu yg ditaruh di dl angkin (dl perut, dl saku, dsb): ia tidak ~ uang sesen pun; (2) tercantum di dalamnya; memuat; berisi: makanan kaleng pd umumnya ~ bahan pengawet; (3) hamil: istrinya sedang ~ tuani.lai
[n] (1) harga (dl arti taksiran harga): sebenarnya tidak ada ukuran yg pasti untuk menentukan -- intan; (2) harga uang (dibandingkan dng harga uang yg lain): -- rupiah terus menurun; (3) angka kepandaian; biji; ponten: rata-rata -- mata pelajarannya adalah sembilan; sekurang-kurangnya -- tujuh untuk ilmu pasti baru dapat diterima di akademi teknik itu; (4) banyak sedikitnya isi; kadar; mutu: -- gizi berbagai jeruk hampir sama; suatu karya sastra yg tinggi -- nya; (5) sifat-sifat (hal-hal) yg penting atau berguna bagi kemanusiaan: -- tradisional yg dapat mendorong pembangunan perlu kita kembangkan; (6) sesuatu yg menyempurnakan manusia sesuai dng hakikatnya: etika dan -- berhubungan erat.bersumber dari http://kamusbahasaindonesia.org.
ni·lai n 1 harga (dl arti taksiran harga): sebenarnya tidak ada ukuran yg pasti untuk menentukan -- intan; 2 harga uang (dibandingkan dng harga uang yg lain): -- rupiah terus menurun; 3 angka kepandaian; biji; ponten: rata-rata -- mata pelajarannya adalah sembilan; sekurang-kurangnya -- tujuh untuk ilmu pasti baru dapat diterima di akademi teknik itu; 4 banyak sedikitnya isi; kadar; mutu: -- gizi berbagai jeruk hampir sama; suatu karya sastra yg tinggi -- nya; 5 sifat-sifat (hal-hal) yg penting atau berguna bagi kemanusiaan: -- tradisional yg dapat mendorong pembangunan perlu kita kembangkan; 6 sesuatu yg menyempurnakan manusia sesuai dng hakikatnya: etika dan -- berhubungan erat;
-- budaya konsep abstrak mengenai masalah dasar yg sangat penting dan bernilai dl kehidupan manusia; -- etik nilai untuk manusia sbg pribadi yg utuh, msl kejujuran; nilai yg berhubungan dng akhlak; nilai yg berkaitan dng benar dan salah yg dianut oleh golongan atau masyarakat; -- hayati nilai untuk manusia sbg subjek vital-biologis, msl nilai air, nilai udara; -- intrinsik nilai atau harga barang yg digunakan untuk membuat uang atau barang; -- keagamaan konsep mengenai penghargaan tinggi yg diberikan oleh warga masyarakat pd beberapa masalah pokok dl kehidupan keagamaan yg bersifat suci sehingga menjadikan pedoman bagi tingkah laku keagamaan warga masyarakat bersangkutan; -- keindahan nilai untuk manusia sbg subjek indra-jiwa, msl keindahan; -- kenikmatan nilai untuk manusia sbg subjek vital-sensitif, msl rasa enak; -- moral nilai etik; -- nominal nilai yg dicantumkan pd saham atau surat berharga lainnya; -- panas Pet panas yg terjadi pd pembakaran sempurna dr sejumlah satuan berat atau satuan volume bahan bakar; -- pari nilai yg tertera di atas sekuritas; nilai nominal; -- pasar Ek 1 harga wajar suatu harta akan laku dijual di pasar bebas; 2 harga atau penilaian harian thd saham di pasar modal untuk melakukan transaksi pembelian dan penjualan; -- pelepasan nilai residu atau sisa aktiva tetap pd saat aktiva tsb tidak digunakan dl proses produksi; -- residu nilai buku suatu aktiva pd akhir masa manfaatnya; -- semantis Ling kemampuan unsur bahasa untuk membedakan makna leksikal, msl fonem /r/ dan /l/ membedakan kata rata dan lata; -- tambah selisih harga antara bahan baku dan harga barang jadi setelah proses pengolahan; -- tukar jumlah uang yg sebenarnya diterima yg diperoleh dl pertukaran suatu barang;
ber·ni·lai v 1 mempunyai nilai (harga uang dsb): mata uang yg ~ seratus rupiah; 2 bermutu; berharga: ia berhasil menciptakan tarian baru yg ~ tinggi;
me·ni·lai v 1 memperkirakan atau menentukan nilainya; menghargai: pedagang itu belum dapat ~ harga intan itu; 2 memberi nilai; menganggap: ia ~ perkumpulan tari itu terlalu mementingkan pemasukan uang; 3 memberi angka (biji): saya berani ~ tujuh untukgambaritu;
ter·ni·lai v terkirakan nilainya (harganya); terhingga: tidak ~ , tidak terhingga nilainya (harganya);tinggisekaliharga(nilainya);
pe·ni·lai n yg menilai; juru taksir (harga barang gadai dsb); penaksir;
pe·ni·lai·an n proses, cara, perbuatan menilai; pemberian nilai (biji, kadar mutu, harga): penelaahan dan ~ yg lengkap; ~ formal seseorang atau komite yg mempunyai wewenang secara formal untuk menilai bawahannya di dl ataupun di luar pekerjaan dan berhak menetapkan kebijakan selanjutnya thd karyawan itu; ~ individual atasan langsung yg secara individual menilai perilaku dan prestasi kerja bawahannya; ~informal seseorang yg melakukan penilaian tt kualitas kerja dan pelayanan yang diberikan tiap karyawan; ~ kolektif tim yg melakukan penilaian prestasi karyawan dan menetapkan kebijakan selanjutnya thd karyawan tsb; ~ pekerjaan penentuan nilai dr suatu pekerjaan untuk menentukan skala gaji, syarat-syarat kenaikan pangkat, dan perangsang thd pekerjaan . bersumber dari http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi.
fal·sa·fah n anggapan, gagasan, dan sikap batin yg paling dasar yg dimiliki oleh orang ataumasyarakat;pandanganhidup;
ber·fal·sa·fah v 1 memikirkan dalam-dalam (tt sesuatu); 2 mengungkapkan pemikiran-pemikiran yg dalam yg dijadikan sbg pandangan hidup . bersumber dari http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi.
2.2 URAIAN
Menurut penulis ‘’ Mengenal simbol – simbol Keraton Yogyakarta yang mengandung nilai fahsafah ‘’ adalah mengetahui lambang – lambang istana raja di sebuah provinsi wilayah kesultanan ngayogyakarta Hadiningrat dan kabupaten pakualaman yang memuat sesuatu yang berharga dari pandangan hidup.
HIPOTESIS
2.3.1 Setiap simbol keraton memiliki sebuah makna berupa gambaran norma – norma kehidupan sehari – hari didalam lingkungan keraton, simbol – simbol tersebut jadikan sebagai pegangan dalam menjalankan aktivitas didalam lingkungan keraton
Dalam menjaga dan melestarikan nilai falsafah dan norma – norma dalam kehidupan didalam keraton , dilakukan dengan cara melaksanakan sebuah upacara rutin seperti peringatan hari besar dan hari – hari yang dianggap sakral, upacara pengukuhan jabatan dan pergantian Abdi dalem
2.3.3 Pengetahuan masyarakat tentang keadaan keraton tergolong awam atau tidak begitu tahu sepenuhnya tentang falsafah didalam keraton , hanya sebatas pada peraturan yang bersifat umum.
BAB 3
METODE PENELITIAN
3.1 Pengertian Metode Penelitian
Kata metode berasal dari kata yunani, yaitu ’’ meta” yang berarti mmenuju,melalui dan “hados” yang artinya calon, atau cara.metodologi ini dapat diartikan bertindak dan berfikir menurut cara tertentu, sedangkan penelitian dapat diartikan sebagai suatu proses atau rangkaian langkah – langkah yang dilakukan secara terencana,terumus, dan sistematis untuk mendapatkan pemecahan atas masalah yang dihadapi atau mencari jawaban terhadap pertanyaan tertentu.
Terencana maksudnya penelitian dilaksanakan dengan adanya unsur kesengajaan dan sebelumnya sudah difikirkan langkah – langkah pelaksaannya.Terumus maksudnya sejak awal hingga akhir kegiatan penelitian dilakukan menurut cara – cara yang sudah dirumuskan atau dihentikan.Sistematis maksudnya penelitian dilaksanakan menurut pola tertentu dari yang paling sederhana sampai yang kompleks hingga tercapai tujuan secara efektif dan efisien.
3.2 Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian ini berada di DI Jogyakarta tepatnya didalam Keraton Jogyakarta.
3.3 Sumber data
Dalam pengumpulan data terdapat dua data, yaitu :
3.3.1 Data Primer
Data primer adalah sumber data yang diperoleh dari hasil observasi dan wawancara secara langsung dengan daftar pertanyaan yang telah disediakan kepada sampel.
Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang diperoleh dari catatan-catatan dari dalam keraton berupa cata – catan dan arsip – arsip yang tersedia.
3.4 Teknik Pengumpulan Data
Dalam mengumpulkan data penelitian di Keraton Yogyakarta, penulis menggunakan metode antara lain sebagai berikut :
Metode Observasi
Yaitu suatu metode yang digunakan dalam penelitian untuk mencari data dengan cara mendatangi atau mengamati secara langsung pada objek yang akan diteliti.metode ini dilakukan untuk menjelaskan segala hal yang bisa dilihat atau diamati oleh peneliti.
3.4.2 Wawancara
Metode wawancara disebut pula dengan metode interview. Wawancara merupakan salah satu teknik pengumpul data yang dilakukan dengan tanya jawab (Ali,1984:83). Melalui tanya jawab dengan responden (orang yang ditanyai) ini seorang peneliti mendapatkan data yang diinginkan.
3.4.3 Studi Dokumentasi
Teknik pengumpulan data dengan cara dokumentasi dilakukan untuk mengumpulkan informasi dengan mencari data mengenai hal-hal variable yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, jurnal, majalah dan lain-lain
BAB 4
PEMBAHASAN
Keraton Yogyakarta terletak di pusat kota Yogyakarta. Letaknya sangat strategis, diantara dua lapangan besar yang sering disebut Alun-Alun Utara (LOR) dan Alun-Alun Selatan (Kidul). Secara geografis Yogyakarta terletak di pulau Jawa bagian Tengah. Keraton Yogyakarta yang beralamat di Jalan Ratawijayan I Yogyakarta sangat dekat dengan Malioboro, dari arah Malioboro lurus ke selatan kita sudah sampai di lokasi wisata tersebut. Dengan luas 3.185,80 km². Keraton Yogyakarta juga merupakan istana resmi Kesultanan Yogyakarta sampai tahun 1977.
Secara etimologis kata kraton penuh dengan makna simbolis. Kraton berasal dari kata : ka + ratu + an + kraton yang berarti tempat bersemayam ratu-ratu. Artinya yang sama juga ditunjukkan dengan kata Kedatonaran tentang budaya Jawa Kata Kedaton (bentuk singkatan dari Ke-datu-an) berasal dari kata Datu yang dalam bahasa indonesia berarti raja. Dalam pembelajaran tentang budaya jawa, arti ini mempunyai falsafah yg sangat dalam.
Keraton Yogyakarta di bangun pada tahun 1756 atau tahun jawa 1682 , di peringati dengan sebuah Condrosengkolo Memet di pintu gerbang kemagangan dan di pintu gerbang mlati, berupa dua ekor naga berlilitan satu sama lainnya.Luas keraton Yogyakarta adalah 14000 m².Di dalamnya terdapat banyak bangunan – bangunan,halaman dan lapangan .
Arsitektur bangunan – bangunannya, letak bangsal-bangsal, ukiran-ukirannya, hiasanya, sampai pada warna gedung-gedungnyapun mempunyai arti. Pohon-pohon yang ditanam di dalamnya sembarangan pohon. Semua yang terdapat di sini seakan-akan memberi nasehat kepada kita untuk cinta dan menyerahkan diri kita kepada Tuhan yang Maha Esa, berlaku sederhana dan tekun,berhati-hati dalam tingkah laku kita sehari-hari dan lain-lain. Maka simbolis yang penuh nilai falsafah menjadi daya tarik tersendiri dari Kraton Yogyakarta yang didirikan oleh Sultan Hamengku Buwono I pasca Perjanjian Giyanti di tahun 1755.
Penataan tata ruang kraton, termasuk pula pola dasar lansekap kota tua Yogyakarta, nama-nama yang dipergunakan, bentuk arsitektur dan arah hadap bangunan, benda-benda tertentu dan lain sebagainya masing-masing memiliki nilai falsafah. .
4.1 Simbol – Simbol
Di dalam keraton terdapat simbol – simbol dari keraton di antaranya sebagai berikut:
4.1.1 Kerapyak
Kerapyak adalah sebuah gambaran dari tempat asal roh – roh. Di sebelah utaranya terletak kampung mijen,berasal dari perkataan dari wiji (benih). Jalan lurus ke utara, kanan kiri dihiasi dengan pohon asem dan tanjung menggambarkan kehidupan sang anak yang lurus, bebas dari rasa sedih dan cemas, rupanya “nengsemaken” (menarik) serta disanjung – sanjung selalu, istimewa oleh ibu bapaknya.
4.1.2 Plengkung gading
Plengkung gading atau plengkung nirbaya. Plengkung Nirbaya merupakan ujung selatan bagian utama kraton. Dari tempat ini Sultan HBI masuk ke kraton pada saat perpindahan pusat pemerintahan dari Kedhaton Ambar Ketawang. Gerbang ini secara tradisi digunakan sebagai rute keluar untuk prosesi panjang pemakaman Sultan ke Imogiri. Untuk alasan inilah tempat ini kemudian menjadi tertutup bagi Sultan yang sedang bertahta. Pada sisi kiri dan kanan pintu terdapat ragam hias kepala raksasa yang disebut Kala atau Kemamang sebagai simbol pelepasan mangkatnya sang raja. Kata nirbaya berasal dari dua unsur kata yakni nir 'hilang, tanpa' dan baya 'bahaya'. Dengan demikian, Plengkung Nirbaya mempunyai arti jalan keluar masuk ke kraton tanpa bahaya, maksudnya ialah jalan yang memberikan keselamatan.
Plengkung ini menggambar batas periode sang anak menginjak dari masa kanak – kanak ke massa pra puber rupa dan tingkahnya masih nengsemaken (pohonasem) apalalagi suka menghias diri (atasinom).sinom adalah daun asem yang masih muka, rupanya hijau muda, sangat menarik, tetapi berarti juga rambut halus – halus di dahi pemudi.Sinom itu selalu di perihara dengan cermat oleh pemudi – pemudi, karena bisa menambah kecantikan.
4.1.3 Alun –alun selatan.
Alun-alun Kidul (Selatan) adalah alun-alun di bagian Selatan Kraton Yogyakarta. Alun- alun Kidul sering pula disebut sebagai Pengkeran. Pengkeran berasal dari kata pengker (bentuk krama) darimburi (belakang).Hal tersebut sesuai dengan keletakan alun-alun Kidul yang memang terletak di belakang kraton. Alun-alun ini dikelilingi oleh tembok persegi yang memiliki lima gapura, satu buah di sisi selatan serta di sisi timur dan barat masing-masing dua buah. Di antara gapura utara dan selatan di sisi barat terdapat Gajahan sebuah kandang guna memelihara gajah milik Sultan. Di sekeliling alun-alun ditanami pohon mangga (Mangiferaindica; famili Anacardiaceae), pakel (Mangifera sp; famili Anacardiaceae), dan kuini (Mangiferaodoranta; famili Anacardiaceae).Pohon beringin hanya terdapat dua pasang. Sepasang ditengah alun - alun yang dinamakan Supit Urang (harfiah=capit udang) dan sepasang lagi di kanan-kiri gapura sisi selatan yang dinamakanWok(dari kata bewok, harfiaf=jenggot). Dua pohon beringin di alun –alun menggambarkan bagian badan kita yang rahasia sekali.Maka dari itu di beri pagar batu bata .Lima buah jalan raya yang bertemu satu sama lainnya di sini menggambarkan panca indra kita.Tanah berpasir artinya belum teratur, lepas satu sama lainnya.Apa yang kita tenggap dengan panca indra kita belum teratur nanti kalau ada sesuatu perhatian barulah terartur keliling alun – alun di tanami pohon kweni dan pakel artinya sang anak sudah wani (berani) karena sudah “akil balik”. Dari gapura sisi selatan terdapat jalan Gading yang menghubungkan denganPlengkung Nirbaya.
4.1.4 Siti hingil.
SitiHinggil Kidul atau yang sekarang dikenal dengan Sasana Hinggil Dwi Abad terletak di sebelah utara alun-alun Kidul. Luas kompleks Siti Hinggil Kidul kurang lebih 500 meter persegi. Permukaan tanah pada bangunan ini dit inggikan sekitar 150 cm dari permukaan tanah di sekitarnya. Sisi timur - utara - barat dari kompleks ini terdapat jalan kecil yang disebut dengan Pamengkang, tempat orang berlalu - lalang setiap hari. Dahulu di tengah Siti Hinggil terdapat pendapa yang kemudian dipugar pada 1956 menjadi sebuah Gedhong Sasana Hinggi l Dwi Abad sebagai tanda peringatan 200 tahun kota Yogyakarta.
Siti Hinggil Kidul digunakan pada zaman dulu oleh Sultan untuk menyaksikan para prajurit kraton yang sedang melakukan gladi bersih upacara Garebeg, tempat menyaksikan adu manusia dengan macan (rampogan) dan untuk berlatih prajurit perempuan,Langen Kusumo. Tempat ini pula menjadi awal prosesi perjalanan panjang upacara pemakaman Sultan yang mangkat ke Imogiri. Sekarang, Siti Hinggil Kidul digunakan untuk mempergelarkan seni pertunjukan untuk umum khususnya wayang kulit, pameran, dan sebagainya..
Disini ada sebuah trateg ada tempat istirahat beranyaman bamb.kanan kiri tumbuh pohon – pohon ganyam dengan daun – daunnya yang rindang serta bunga – bunganya yang harum wangi.siapa saja yang berteduh di bawah trateg akan merasa nyaman, tentram, senang, dan bahagia menggambarkan rasa pemuda pemudi yang sedang dirindu cinta asmara.
Sitinggil.
Ditengah – tengah dahulu ada pendoponya dan di tengah – tengah lantai ada selo – gilanya, tempat singah sana sri sulton.Kanan – kiri tempat duduk kerabat keraton dan abdi dalam lain – lainnya peria wanita berkumpul menghormati sri sulton.menggambarkan pemuda pemudi duduk bersanding di kursi temanten.pohon –pohon yang di tanam di sini ialah pohon mangga cempora serta soka..kedua pohon ini mempunyai bunga yang halus panjang berkumpul menjadi satu, ada yang merah ada yang putih,gambaran dari bercampurnya benih manusia laki dan perempuan.kanan – kiri pendopo sitingil , di halaman sebelah timur dan barat ada kamar mandinya.sitingil ini di lingkari oleh sebuah jalan, pamenkang namanya.mekangkang adalah keadaan kaki kita , kalau terletak sedikit jauh satu sama lainnya.
Halaman Kemandungan.
Kamandhungan Kidul Di ujung selat an jalan kecil di selat an kompleks Kamagangan terdapat sebuah gerbang, Regol Gadhung Mlati, yang menghubungkan kompleks Kamagangan dengan kompleks Kamandhungan Kidul/selatan. Dinding penyekat gerbang ini memiliki ornamen yang sama dengan dinding penyekat gerbang Kamagangan. Di kompleks Kamandhungan Kidul terdapat bangunan utama Bangsal Kamandhungan. Bangsal ini konon berasal dari pendapa desa Pandak Karang Nangka di daerah Sukawati yang pernah menjadi tempat Sri Sultan Hamengkubuwono I bermarkas saat perang tahta III. Di sisi selat an Kamandhungan Kidul t erdapat sebuah gerbang, Regol Kamandhungan, yang menjadi pintu paling selatan dari kompleks cepuri. Di antara kompleks Kamandhungan Kidul dan Siti Hinggil Kidul terdapat jalan yang disebut dengan Pamengkang.
pohon yang di tanam di sini ialah pohon kepel,pelem (mangga),cengkir gading serta jambu darsono.menggambarkan benih dalam kandungan sang ibu.photon pelem menggambarkan pada gelem,atas kemauan bersama.jambu darsono dari kadersan sih ing sesama.menggambarkan karena di liputi oleh kasih cinta satu sama lain.pohon kepel dari perkataan kempel atau kempal,menggambarkan bersatunya kemauan,bersatunya benih,bersatunya rasa,bersatunya cita –cita. Cenngkir gading adalah sejenis pohon kelapa dan kecil bentuknya..di pakai pada upacara”mitoni”yaitu memperingati sang bayi sudah 7 bulan di kandungan.jalan kecil dari sini ke kanan dan kekiri menggambarkan pengaru – pengaruh negatif yang dapat menganggu pertumbuhan sang bayi
Kamangangan.
Kamagangan Di sisi selatan kompleks Kedhaton terdapat Regol Kamagangan yang menghubungkan kompleks Kedhaton dengan kompleks Kamagangan. Gerbang ini begitu penting karena di dinding penyekat sebelah utara terdapat patung dua ekor ular yang menggambarkan tahun berdirinya Kraton Yogyakarta. Dalam bahasa jawa : "Dwi naga rasa tunggal" Artinya: Dwi=2, naga=8, rasa=6, tunggal=I, Dibaca dari arah belakang 1682.Warna naga hijau, Hijau ialah symbol dari pengharapan. Di sisi selatannya pun terdapat dua ekor ular di kanan dan kiri gerbang yang menggambarkan tahun yang sama.Dahulu kompleks Kamagangan digunakan untuk penerimaan calon pegawai (abdi-Dalem Magang), tempat berlatih dan ujian serta apel kesetiaan para abdi-dalem magang. Bangsal Magangan terletak di tengah halaman besar digunakan sebagai tempat upacara Bedhol Songsong, pertunjukan wayang kulit yang menandai selesainya seluruh prosesi ritual di Kraton. Pawon Ageng (dapur istana) Sekul Langgen berada di sisi timur dan Pawon Ageng Gebulen berada di sisi barat . Kedua nama t ersebut mengacu pada jenis masakan nasiLanggi dan nasi Gebuli. Di sudut tenggara dan barat daya terdapat Panti Pareden.Kedua tempat ini digunakan untuk membuat Pareden/ Gunungan pada saat menjelangUpacara Garebeg. Di sisi timur dan barat terdapat gapura yang masing-masing merupakan pintu ke jalan Suryoputran dan jalan Magangan. Di sisi selatan halaman besar terdapat sebuah jalan yang menghubungkan kompleks Kamagangan denganRegol Gadhung Mlati. Dahulu di bagian pertengahan terdapat jembatan gant ung yang melintasi kanalTaman sari yang menghubungkan dua danau buatan di barat dan timur kompleks Taman Sari. Di sebelah barat t empat ini t erdapat dermaga kecil yang digunakan oleh Sultan untuk berperahu melintasi kanal dan berkunjung ke Taman Sari.
Jalan disini menyempit ( di buat sempit ) kemudian melebar dan terang benderang.suatu gambaran anatonis yamng tepat sekali.menggambakan sang bayi telah lahir dengan selamat menjadi magang(calon) manusia.kepadanya telah tersedia makan yang cukup,digambarkan dengan adanya dapur keraton gebulen dan sekullanggen.jalan besar kanan – kiri kemagangan menggambarkan juga pengaruh negatif atau positif atas perkembangan sang anak.hendaknya sang anak di didik mengarahkan cita – citanya lurus ke utara , ke keraton , tempat bersemayan sri sultan.di sini ia dapat mencapai yang di cita – citakannya,asal mau bekerja dengan baik patuh pada peraturan – peraturan,setia dan selalu ingat dan mengamdi kepada tuhan yang maha murah.semua ini di gambarkan oleh apa yang kita lihat di keraton sampai sekarang ini.misalnya lampu keraton kyai wiji,menggambarkan”sinar yang tak pernah padam”atau menurut Dr.V.pigean dan Dr.L.adam,bekas gubernur yogyakarta:”het eeuwig van onze ges”.
Pergelaran
Pagelaran berasal dari katapagel, pagol yang berarti batas, sehingga pagelaran mengandung nilai falsafah tidak ada perbedaan antara orang satu dengan lainnya, baik laki-laki maupun perempuan.Kata pagelaran juga dapat berasal dari katagelar yang berarti dibuka maka kata ini lebih diarahkan bahwa pagelaran menunjukan unsur - unsur keterbukaan yang segala sesuatunya tidak perlu disembunyikan.Makna pagelaran sebagai bentuk kesamaan kedudukan dan derajat di dalam kraton Yogyakarta antara lain ditunjukan dengan digunakannya bahasa Bagongan, yaitu bahasa krama inggil yang sudah mengalami perubahan (Khairudin, 1995).
Ketiga bangunan pagelaran berbentuk limasan klabang nyander, yaitu bangunan dengan atap limasan yang disangga oleh beberapa tiang berderet.Menurut Pantja Sunjata (1995: 225-226), klabang adalah nama binatang yang berbisa (racun) sangat ampuh, sedang nyander berarti mengejar.Bisa melambangkan orang yang tak tahu benar salah dan tidak mematuhi tata tertib, nyander dimaksudkan sebagai dikejar orang banyak atau petugas hukum.Sehingga makna dari bentuk bangunan ini adalah untuk mengingatkan manusia bahwa Orang yang tidak mematuhi tata tertib kerajaan pasti akan dikejar oleh orang banyak atau petugas hukum dan yang bermasalah akan mendapat hukuman.Selain itu bentuk bangunan pagelaran jugalowahan lambang gantung.Lowahan lambang gantung memiliki makna bahwa manusia tergantung pada kehendak Yang Maha Kuasa, manusia hanya sekedar melaksanakan dan berusaha.Pertemuan sultan dengan dengan para bangsawan dan pejabat di pagelaran merupakan gambaran kedudukanya sebagai wakil Allah di dunia, Sultan berfungsi sebagai penghubung dan penerima langsung dari Allah .
Bangunan lain di bagian ini adalah Bangsal Kotak (tempat menunggu para penari untuk pentas di bangsal Kencana),Bangsal Mandalasana (tempat abdi-Dalem Musikan memainkan ansambel musik diatonis), Gedhong Patehan (tempat mempersiapkan minuman teh), Gedhong Danartapura (kantor bendahara), Gedhong Siliran (tempat menyimpan lampu/lentera), Gedhong Sarangbaya (tempat menyimpan peralatan makan dan minum), Gedhong Gangsa (tempat memainkan orkest ra gamelan), dan lain sebagainya. Di t empat ini pula sekarang berdiri bangunan baru,Gedhong Kaca sebagai museum Sult an HB IX.
Di selatan bangsal kencana berdiri Bangsal Manis menghadap ke arah timur. Bangunan ini dipergunakan sebagai tempat perjamuan resmi krajaan.Sekarang tempat ini di gunakan untuk mansambel musik dia membersihkan pusaka kerajaan pada bulan Suro (bulan pertama dalam kalender Jawa).Bangunan lain ini adalah bangsal kotak (tempat menunggu para penari untuk pentas di bangsal kencana), bangsal mandalasana (tempat abdi-dalem musikan memainkan
Di keraton juga terdapat tradisi leluhur yang selalu di lakukan adalah upacara,salah satu contohnya adalah Grebeg.Grebeg ialah upacara keagamaan di keraton, yang diadakan tiga kali setaun, bertepatan dengan hari lahirnya nabi muhammad s.aw.Upacra semacam itu disertai dengan upacara penembah Tuhan yang Maha Kuasa oleh Sri Sulton sendiri di sitinggil-utara dan kemudian pembacaan doa oleh kyai pengulu untuk kesejahteraan dan kemakmuran rakyat, keagungan agama,dan kebahagiaan serta keselamatan keraton, nusa dan bangsa pada umumnya.
Beberapa tempat larangan atau tempat pesucian dimana segala sesuatu dirancang untuk kemudian dijalankan :
Betalmakmur
Betalmakmur adalah suatu tempat atau suatu suasana dari mana segala sesuatu dirancang untuk kemudian dijalankan.disinilah tempatnya budi, fikiran dan angan-angan.Siapa yang dapat mengheningkan atau menjernihkan ketiga-tiganya , akan menjadi awas atau waspada serta bijaksana.
Betal mukaram
Betal mukaram berarti tempat larangan.Disini tumbuhlah “kemauan yang pertama” atau “wahyaning osik” .Dikatakan larangan , sebab kemauan itu ada yang jahat ada yang baik.Kalau tidak waspada, dapat mencelakakan kita.Osik yang jahat itu dibawah pengaruh “ roh Ilafi” atau budi, karena tertarik oleh nafsu, maka lahirlah apa yang dinamakan “ayet”.Maka dari itu siapa saja yang tunduk kepada “ayet”, akan tergelincir.Osik yang baik itu berasal dari Tuhan .Bersemayam dirasa ( rahsa) masuk dihati sanubari, kemudian disebut “perintah yang benar”.Timbulnya perintah itu tanpa ada di pikir-pikir dan di timbang-timbang, tetapi keluar sendiri karena sudah menjadi keyakinan.Maka dari itu kita harus selalu meneliti diri kita supaya segala tingkah laku kita betul dan jujur. penelitian itu dapat dilatih dengan semadhi.
Betal mukadas
Betal mukadas disebut juga tempat pasucen.Dari sinilah atau dengan inilah Tuhan yang Maha suci melahirkan makluk baru dengan keheningan dan cinta kasih sayang.Memang sesungguhnya Tuhan itu cinta kasih sayang sendiri.God is liefde op zich-zelf.Semua agama berpedoman keepada cinta kasih sayang itu.Maka dari pria wanita harus pertama-tama berpijakn kepada rasa cinta kasih sayang itu sama lainnya untuk mendapatkan benih yang sama.
Simbol-simbol dalam Kraton Yogyakarta seperti yang telah diuraikan di atas, menjadi penanda perjalanan panjang sejarah Kraton dan juga kota Yogyakarta. Dengan beragam tinggalan budayanya, Kraton Yogyakarta merupakan sebuah kawasan cagar budaya, sesuai dengan Perda Prov. DIY no. 11 tahun 2005 ps. 1 ayat 6 yang menyatakan ” Kawasan Cagar Budaya adalah kawasan yang melingkupi aglomerasi wilayah yang memiliki benda atau bangunan cagar budaya dan mempunyai karakeristik serta kesamaan latar belakang budaya dalam batas geografis yang ditentukan dengan deliniasi fisik dan non fisik”.
Nilai falsafah yang terkandung di dalamnya menjadikan Kraton Yogyakarta sebagai warisan budaya yang harus kita lestarikan bersama. Di sisi lain nilai penting tinggalan-tinggalan itu sudah diakui oleh dunia ilmu pengetahuan, sehingga harus dilindungi. Bahkan berkaitan dnegan itu telah diundangkan peraturan perundangan untuk melindungi pusaka-pusaka budaya. Peraturan perundangan tersebut adalah Undang-Undang Republik Indonesia no. 5 tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya, dan Peraturan Daerah Istimewa Yogyakartano..Demikian pula, kajian-kajian tentang berbagai aspek Kraton Yogyakarta, khususnya yang berhubungan dengan statusnya sebagai kawasan pusaka budaya sudah dilakukan.
4.2 Upaya Abdi Dalem dalam melestarikan Nilai – Nilai falsafah
Sejakk 30 oktober 1945, pemerintahan keraton hanya terbatas pada lingkungan keraton dan hanya untuk keraton sendiri.dalam pelaksanaan tersebut, sultan di bantu oleh para rayi dalem(abdi – abdi sultan), dan abdi dalem.menurut agus sudaryanto abdi dalem adalah orang yang sanggup menjadi abdi budaya yogyakarta dan sudah mendapatkan ketetapan atau kekancingan (surat keputusan atau surat pengukuan) yang di keluarkan oleh pihak keraton yogyakarta.
Abdi dalem itu sendiri terbagi dalam dua golongan besar yaitu abdi dalem punokawan dan abdi dalem kaprajan.perbedaannya kalau abdi dalem punokawan betul – betul mengapdi keraton mulai dari pengakuan dari pihak keraton sebagai perangkat pemerintahan keraton, penggajian oleh keraton, dan seluruh tugas yang di jalankannya untuk keraton.sedangkan abdi dalem kaprajan sama – sama mengabdi namun tidak sepenuhnya.pengakuan dan penggajiannya adalah dari negara RI, dan mereka tidak memiliki beban tugas dari pihak keraton.
penTing
blog ini berisi tugas-tugas eazt,dkk.
Selasa, 27 Maret 2012
Selasa, 26 April 2011
proposal
PROPOSAL
MENGENAL SIMBOL-SIMBOL KERATON YOGYAKARTA
YANG MENGANDUNG NILAI FALSAFAH
Oleh:
1) Bhagawati Eka Purnia
2) Evi Zulia Dewi
3) Indah Puspita Dewi
4) Karisna Yuni Purnamasari
5) Widyaning Tyastutik
KELAS XI IPS 2
SMAN 1 PURWOHARHO
Jl slamet cokro no teLp (0333) 39
Purwoharjo – Banyuwangi
2011
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Di eraglobalisasi ini,seiring dengan pengaruh budaya luar memberi suatu dampak dan berpengaruh terhadap budaya yang ada didalam negeri.kebanyakan masyarakat cenderung terpengaruh dan mengikuti budaya asing dibanding dengan budayanya sendiri.Yang lebih memprihatinkan budaya luar justru lebih tertarik dengan budaya kita dan oleh masyarakat luar dijadikan sebagai salah satu budayanya sendiri dan di terapkan dalam kehidupan sehari-hari tetapi mereka juga tidak meninggalkan kebudayaan yang mereka punya.hal itu bertolak belakang dengan sikap masyarakat dalam negeri yang lebih menghargai atau membudayakan kebudayaan luar dan melupakan kebudayaan yang mereka punya.
Dari paparan diatas jelas, bahwa kurangnya rasa kecintaan dan menghargai budaya sendiri menjadi faktor timbulnya rasa ingin memiliki budaya yang baru dan meninggalkan budayanya sendiri. rasa kecintaan akan budayanya sendiri harus ditanamkan didalam diri setiap individu.untuk mencapai tujuan seperti itu, tentunya diperlukan suatu upaya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat untuk bisa lebih menghargai budayanya sendiri.
Upaya-upaya untuk menumbuhkan rasa kecintaan terhadap budayanya sendiri bisa dilakukan dengan mengenal lebih dalam budaya yang dimiliki,karena dengan itu individu mampu memahami makna yang terkandung dan nilai-nilai estetika yang terdapat dalam budayanya sendiri.sehingga muncullah rasa kesadaran untuk tetap mempertahankan budaya yang dimiliki.
Dari sekian orang yang kurang menghargai budayanya sendiri ternyata masih ada juga masyarakat yang mampu mempertahankan,mengelola,dan melestarikan peninggalan yang memiliki nilai falsafah tertentu yang tertuang dalam suatu simbol.hal ini masih dilakukan oleh masyarakat yang tinggal di Kraton Yogyakarta.Pentingnya kajian ini adalah, ingin mensosialisasikan kebudayaan yang terletak pada simbol-simbol Keraton Yogyakarta. Maka dari itu kami mengangkat judul ‘’ MENGENAL SIMBOL – SIMBOL KERATON YOGYAKARTA YANG MENGANDUNG NILAI FALSAFAH ‘’.
1.2 Rumusan Masalah
a.) Apakah makna dari simbol-simbol yang terdapat dalam Keraton Yogyakarta ?
b.) bagaimana usaha para Abdi Dalem keraton untuk menjaga nilai falsafah yang terdapat dalam simbol-simbol kekeratonan Yogyakarta ?
c.) seberapa besar pengetahuan masyarakat sekitar Keraton mengenai simbol – simbol kekeratonan Yogyakarta ?
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan pada butir – butir rumusan masalah,maka penelitian ini bertujuan sebagai berikut :
a.) Mengetahui makna dari simbol – simbol yang terdapat dalam Keraton Yogyakarta.
b.) Mengetahui usaha para Abdi Dalem keraton untuk menjaga nilai falsafah yang terdapat dalam simbol-simbol kekeratonan Yogyakarta.
c.) Mengetahui seberapa besar pengetahuan masyarakat sekitar Keraton mengenai simbol – simbol kekeratonan Yogyakarta.
1.4 Manfaat Penelitian
a.) Bagi kekeratonan Yogyakarta
Penelitian Membantu mensosialisasikan sehingga masyarakat luas mengetahui tentang kekeratonan Yogyakarta terutama mengenai simbol – simbol dan falsafah – falsafah yang menyelubunginya.
b.) Bagi Peneliti
Dari hasil penelitian diharapkan menambah wawasan pengetahuan kepada peneliti khususnya dalam bidang kebudayaan jawa dan bisa melestarikan kebudayaan lokal.
c.) Bagi masyarakat sekitar Keraton Yogyakarta
Mereka bisa mengetahui lebih dalam tentang keKeratonan Yogyakarta yang sangat etnis.
BAB 2
LANDASAN TEORI
Kata Mengenal, kata Simbol,kata keraton,kata yang, dan kata mengandung di tinjau dari website http://kamusbahasaindonesia.org.
Kata yogyakarta ditinjau http://upload.wikimedia.org
Kata nilai,dan kata falsafah ditinjau dari link http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi
BAB 3
METODE PENELITIAN
3.1 Observasi
Metode wawancara disebut pula dengan metode interview. Wawancara merupakan salah satu teknik pengumpul data yang dilakukan dengan tanya jawab (Ali,1984:83). Melalui tanya jawab dengan responden (orang yang ditanyai) ini seorang peneliti mendapatkan data yang diinginkan.
3.2 Studi Dokumentasi
Teknik pengumpulan data dengan cara dokumentasi dilakukan untuk mengumpulkan informasi dengan mencari data mengenai hal-hal variable yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, jurnal, majalah dan lain-lain.
BAB 4
PEMBAHASAN
Adapun sistematika pembahasan pada penulisan proposal ini adalah sebagai berikut :
Bab Pertama, Pendahuluan yang berisi : Latar Belakang Permasalahan, Rumusan Permasalahan, Tujuan Penelitian, dan manfaat penelitian.
Bab Kedua, Tinjauan teori Tentang judul proposal yang meliputi Pengertian dari kata mengenal, simbol ,keraton, yogyakarta, yang, mengandung , nilai ,dan falasafah menurut sumber dari situs-situs web yang menyediakan kamus – kamus bahasa indonesia.
Bab Ketiga, Metode Penelitian yang terdiri atas jenis pengumpulan data yaitu dengan observasi dan studi dokumentasi.
Bab Keempat, Deskripsi Objek Penelitian yang meliputi makna dari simbol – simbol keratton Yogyakarta : usaha para abdi dalem untuk mempertahankan budaya Keraton Yogyakarta : pengetahuan masyarakat sekitar Keraton mengenai simbol – simbol kekeratonan Yogyakarta.
Bab Kelima, penutup terdiri dari kesimpulan dan saran. Penarikan kesimpulan dapat dilakukan berdasarkan matrik yang telah dibuat untuk menemukan pola, tema atau topik sesuai dengan fokus penelitian. Setelah seluruh data dikode dalam bentuk yang lebih sederhana dilakukan intrepretasi untuk memperoleh pemahaman agar lebih mudah merumuskannya sebagai sebuah teori. Saran berisi pendapat atau masukan dari peneliti kepada objek penelitian.
MENGENAL SIMBOL-SIMBOL KERATON YOGYAKARTA
YANG MENGANDUNG NILAI FALSAFAH
Oleh:
1) Bhagawati Eka Purnia
2) Evi Zulia Dewi
3) Indah Puspita Dewi
4) Karisna Yuni Purnamasari
5) Widyaning Tyastutik
KELAS XI IPS 2
SMAN 1 PURWOHARHO
Jl slamet cokro no teLp (0333) 39
Purwoharjo – Banyuwangi
2011
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Di eraglobalisasi ini,seiring dengan pengaruh budaya luar memberi suatu dampak dan berpengaruh terhadap budaya yang ada didalam negeri.kebanyakan masyarakat cenderung terpengaruh dan mengikuti budaya asing dibanding dengan budayanya sendiri.Yang lebih memprihatinkan budaya luar justru lebih tertarik dengan budaya kita dan oleh masyarakat luar dijadikan sebagai salah satu budayanya sendiri dan di terapkan dalam kehidupan sehari-hari tetapi mereka juga tidak meninggalkan kebudayaan yang mereka punya.hal itu bertolak belakang dengan sikap masyarakat dalam negeri yang lebih menghargai atau membudayakan kebudayaan luar dan melupakan kebudayaan yang mereka punya.
Dari paparan diatas jelas, bahwa kurangnya rasa kecintaan dan menghargai budaya sendiri menjadi faktor timbulnya rasa ingin memiliki budaya yang baru dan meninggalkan budayanya sendiri. rasa kecintaan akan budayanya sendiri harus ditanamkan didalam diri setiap individu.untuk mencapai tujuan seperti itu, tentunya diperlukan suatu upaya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat untuk bisa lebih menghargai budayanya sendiri.
Upaya-upaya untuk menumbuhkan rasa kecintaan terhadap budayanya sendiri bisa dilakukan dengan mengenal lebih dalam budaya yang dimiliki,karena dengan itu individu mampu memahami makna yang terkandung dan nilai-nilai estetika yang terdapat dalam budayanya sendiri.sehingga muncullah rasa kesadaran untuk tetap mempertahankan budaya yang dimiliki.
Dari sekian orang yang kurang menghargai budayanya sendiri ternyata masih ada juga masyarakat yang mampu mempertahankan,mengelola,dan melestarikan peninggalan yang memiliki nilai falsafah tertentu yang tertuang dalam suatu simbol.hal ini masih dilakukan oleh masyarakat yang tinggal di Kraton Yogyakarta.Pentingnya kajian ini adalah, ingin mensosialisasikan kebudayaan yang terletak pada simbol-simbol Keraton Yogyakarta. Maka dari itu kami mengangkat judul ‘’ MENGENAL SIMBOL – SIMBOL KERATON YOGYAKARTA YANG MENGANDUNG NILAI FALSAFAH ‘’.
1.2 Rumusan Masalah
a.) Apakah makna dari simbol-simbol yang terdapat dalam Keraton Yogyakarta ?
b.) bagaimana usaha para Abdi Dalem keraton untuk menjaga nilai falsafah yang terdapat dalam simbol-simbol kekeratonan Yogyakarta ?
c.) seberapa besar pengetahuan masyarakat sekitar Keraton mengenai simbol – simbol kekeratonan Yogyakarta ?
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan pada butir – butir rumusan masalah,maka penelitian ini bertujuan sebagai berikut :
a.) Mengetahui makna dari simbol – simbol yang terdapat dalam Keraton Yogyakarta.
b.) Mengetahui usaha para Abdi Dalem keraton untuk menjaga nilai falsafah yang terdapat dalam simbol-simbol kekeratonan Yogyakarta.
c.) Mengetahui seberapa besar pengetahuan masyarakat sekitar Keraton mengenai simbol – simbol kekeratonan Yogyakarta.
1.4 Manfaat Penelitian
a.) Bagi kekeratonan Yogyakarta
Penelitian Membantu mensosialisasikan sehingga masyarakat luas mengetahui tentang kekeratonan Yogyakarta terutama mengenai simbol – simbol dan falsafah – falsafah yang menyelubunginya.
b.) Bagi Peneliti
Dari hasil penelitian diharapkan menambah wawasan pengetahuan kepada peneliti khususnya dalam bidang kebudayaan jawa dan bisa melestarikan kebudayaan lokal.
c.) Bagi masyarakat sekitar Keraton Yogyakarta
Mereka bisa mengetahui lebih dalam tentang keKeratonan Yogyakarta yang sangat etnis.
BAB 2
LANDASAN TEORI
Kata Mengenal, kata Simbol,kata keraton,kata yang, dan kata mengandung di tinjau dari website http://kamusbahasaindonesia.org.
Kata yogyakarta ditinjau http://upload.wikimedia.org
Kata nilai,dan kata falsafah ditinjau dari link http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi
BAB 3
METODE PENELITIAN
3.1 Observasi
Metode wawancara disebut pula dengan metode interview. Wawancara merupakan salah satu teknik pengumpul data yang dilakukan dengan tanya jawab (Ali,1984:83). Melalui tanya jawab dengan responden (orang yang ditanyai) ini seorang peneliti mendapatkan data yang diinginkan.
3.2 Studi Dokumentasi
Teknik pengumpulan data dengan cara dokumentasi dilakukan untuk mengumpulkan informasi dengan mencari data mengenai hal-hal variable yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, jurnal, majalah dan lain-lain.
BAB 4
PEMBAHASAN
Adapun sistematika pembahasan pada penulisan proposal ini adalah sebagai berikut :
Bab Pertama, Pendahuluan yang berisi : Latar Belakang Permasalahan, Rumusan Permasalahan, Tujuan Penelitian, dan manfaat penelitian.
Bab Kedua, Tinjauan teori Tentang judul proposal yang meliputi Pengertian dari kata mengenal, simbol ,keraton, yogyakarta, yang, mengandung , nilai ,dan falasafah menurut sumber dari situs-situs web yang menyediakan kamus – kamus bahasa indonesia.
Bab Ketiga, Metode Penelitian yang terdiri atas jenis pengumpulan data yaitu dengan observasi dan studi dokumentasi.
Bab Keempat, Deskripsi Objek Penelitian yang meliputi makna dari simbol – simbol keratton Yogyakarta : usaha para abdi dalem untuk mempertahankan budaya Keraton Yogyakarta : pengetahuan masyarakat sekitar Keraton mengenai simbol – simbol kekeratonan Yogyakarta.
Bab Kelima, penutup terdiri dari kesimpulan dan saran. Penarikan kesimpulan dapat dilakukan berdasarkan matrik yang telah dibuat untuk menemukan pola, tema atau topik sesuai dengan fokus penelitian. Setelah seluruh data dikode dalam bentuk yang lebih sederhana dilakukan intrepretasi untuk memperoleh pemahaman agar lebih mudah merumuskannya sebagai sebuah teori. Saran berisi pendapat atau masukan dari peneliti kepada objek penelitian.
Langganan:
Komentar (Atom)